PRENCANAAN SUMBER DAYA MANUSIA YANG BAIK PADA ORGANISASI
Nama : Eneng Devi Safitri
NPM : 170110200007
Dalam buku Malayu S.P. Hasibuan,
(2014), terdapat kutipan pengertian organisasi yaitu sebagai proses penentuan
dan pengelompokan pekerjaan yang akan dikerjakan, menetapkan dan melimpahkan
wewenang dan tanggung jawab dengan maksud untuk memungkinkan orang-orang
bekerja sama secara efektif dalam mencapai tujuan.
Manajemen Sumber Daya Manusia
merupakan suatu perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, pelaksanaan,
dan pengawasan terhadap pengadaan, pengembangan, pemberian balas jasa,
pengintegrasian, pemeliharaan, dan pemisahan tenaga kerja dalam rangka mencapai
tujuan organisasi.
Unsur paling penting dalam
organisasi adalah manusia, dimana mereka akan mempunyai tugas dengan pembagian
yang berbeda-beda. SDM yang berkualitas dapat menggerakkan organisasi tersebut untuk
bergerak maju.
Untuk menggerakkan organisasi
menjadi lebih baik, diperlukannya penyeleksian dalam perekrutan SDM itu, baik
sisi pengetahuan, maupun keterampilannya. Sumber daya manusia yang baik merupakan
aset bagi organisasi tersebut, sehingga ketika proses perekrutan harus
dilakukan secara tepat dengan pelaksanaan yang seefektif mungkin sehingga terlihat
seberapa besar potensi dari SDM tersebut.
Sesuai dengan tujuan utama
manajemen Sumber Daya Manusia adalah untuk mendapatkan, mempertahankan,
mengembangkan, dan memakai para pegawai atau pekerja secara efisien dan efektif
(berhasil guna dan berdaya guna) untuk mencapai misi organisasi. Dengan demikian,
kegiatan pokok yang membentuk unsur-unsur inti dari manajemen Sumber Daya
Manusia adalah perencanaan dan peramalan (forecasting) sumber daya
manusia, staffing, pelatihan dan pengembangan, pengelolaan karier,
manajemen dan pengawasan (control) kinerja, manajemen kompensasi atau
imbalan, strategi peningkatan kualitas, produktivitas dan kualitas dunia kerja,
serta hubungan antara pimpinan dan pegawainya
Beberapa paradigma yang bisa
dijadikan pedoman dalam melakukan perekrutan SDM untuk organisasi, diantaranya:
1.
Ketika melakukan penyaringan, yang utama dilihat
adalah Pendidikan terakhir yang ditempuh oleh calon anggota organisasi, dan
jurusan yang di ambil semasa belajar apakah relevan dengan lowongan pekerjaan
yang tersedia, sehingga tidak akan terjadi ketimpangan ketika Pendidikan terakhir
calon anggota sudah sesuai dengan lowongan pekerjaan yang tersedia.
2.
Agar mendapatkan SDM yang berkualitas,
sesuai dengan karakteristik yang diinginkan maka harus dilaksanakannya
wawancara dan seleksi, Untuk meyakinkan kemampuan, keahlian, sikap, dan
perilaku calon anggota sehingga ideal untuk bergabung.
3.
Soft Skill atau keterampilan yang
cenderung abstrak yang dapat terlihat seiring dengan dihadapkan dengan situasi
tertentu. Untuk melihat kemampuan ini, seharusnya sebelum diterima sebagai
anggota, calon anggota harus di tes dalam beberapa situasi yang berbeda. Dengan
cara tersebut, atasan dapat melihat layak atau tidaknya calon anggota ketika
dihadapkan beberapa persoalan atau situasi yang akan terjadi, seperti apa responsnya,
bagaimana calon anggota melaksanakan pekerjaannya.
4.
Diberikan beberapa pelatihan atau pembinaan dari
atasan sebelum bekerja agar kinerja dari SDM tersebut benar-benar sesuai dengan
apa yang di harapkan.
5.
Terbuka dalam menerima kritikan atau saran dari semua
anggota organisasi untuk hal-hal yang lebih baik. Jangan membatasi kritikan
atau saran dari semua anggota organisasi , hal itu dapat berupa ide-ide baru atau
inovasi terhadap hal yang sudah ada sehingga seluruh anggota organisasi bisa
turut serta dalam pengembangan organisasi, bukan hanya atasan saja.
Ketika sudah mendapatkan SDM
yang di harapkan, selalu diadakannya pelatihan-pelatihan pekerja dengan arahan
yang cukup berpengalaman, seperti seminar maupun workshop yang mana pesertanya
harus mencari solusi dari permasalahan yang sedang di bahas dengan tujuan untuk
mengembangkan kemampuan dan meningkatkan skill pekerja yang dibutuhkan.
Pemantauan perlu dilakukan saat bekerja guna mengontrol pekerja supaya sejalan dengan apa yang diperintahkan dan tidak bertentangan dengan apa yang menjadi tugasnya. Evaluasi juga perlu dilakukan terlebih ada pekerjaan yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan supaya kembali kepada tujuan awal.
Referensi
Malayu S.P. Hasibuan, 2014. Organisasi dan motivasi,
dasar peningkatan produktivitas, Jakarta: Bumi Aksara.
Komentar
Posting Komentar